BATULICIN – Yayasan Rumah Pena BerAksi menggelar peluncuran sekaligus diskusi buku yang “Kepala Sekolah Sebagai Agen Perubahan” dan antologi cerpen “Ada Pelangi Sebelum Hujan”. Kegiatan berlangsung di Gimme Cafe, Simpang Empat, Minggu (18/10/2026).
Diskusi menghadirkan dua pembicara yakni jurnalis Radar Banjarmasin Zulqarnain dan cerpenis Kalimantan Selatan Rafii Syihab. Obrolan itu dipandu oleh jurnalis sekaligus musisi asal Batulicin, Puja Mandela.
Dalam pemaparannya, Zulqarnain menyoroti opini-opini Sri Supadmi yang dinilai sarat akan pengalaman empiris puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal kuat untuk memantik semangat pendidik lain dalam menulis.
”Meski begitu, pada era sekarang sangat diperlukan gugahan tulisan yang konkrit dalam pengalaman yang dituliskan. Hal ini bertujuan agar tulisan lebih menarik dan dekat dengan pembaca,” ujar Zulqarnain.
Sementara itu, Rafii Syihab yang mengulas buku antologi cerpen Ada Pelangi Sebelum Hujan turut memberikan apresiasi.
Ia berpandangan bahwa karya tersebut telah berhasil diselesaikan dengan baik, sekaligus menyarankan agar ke depannya para penulis lokal lebih berani mengangkat muatan lokal.
”Buku antologi cerpen ini sudah sangat baik karena tuntas sebagai sebuah karya tulis. Namun, akan jauh lebih menarik dan autentik jika para penulis ke depan lebih berani mengeksplorasi dan mengangkat isu-isu lokalitas daerah kita,” ungkap Rafii.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Sri Supadmi menyambut baik dan menyatakan bahwa peluncuran buku ini bukanlah akhir dari perjalanan kepenulisannya.
Ia berkomitmen untuk terus menelurkan karya-karya selanjutnya dengan mengeksplorasi genre lokalitas dan tema edukatif lainnya.
”Insya Allah, ke depannya saya akan terus berkarya dan menghadirkan tulisan-tulisan baru, termasuk yang mengangkat kearifan lokal daerah kita,” tutur Sri Supadmi.
Mewakili Bupati Andi Rudi Latif, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Bumbu, Amiluddin, memuji langkah produktif yang diinisiasi oleh Sri Supadmi. Menurutnya, karya tulis tersebut menjadi pemantik positif bagi para pendidik di Bumi Bersujud untuk terus aktif berkarya di bidang literasi.
”Kami berharap buku ini dapat didistribusikan khususnya kepada para pendidik di Tanah Bumbu,” ujar Amil.
Ia juga merekomendasikan agar isi dan gagasan dalam buku tersebut dapat disinergikan dengan kurikulum serta program pengembangan kompetensi guru, sehingga semangat menulis dan inovasi pendidikan dapat masif diadopsi di lingkungan satuan pendidikan daerah.
Diskusi yang berlangsung hangat ini juga merumuskan sejumlah solusi untuk memajukan dunia kepenulisan dan literasi daerah.
Ide-ide konstruktif tersebut diusulkan dan didiskusikan secara aktif oleh para peserta kegiatan yang menekankan pentingnya keterbukaan akses, pemenuhan fasilitas bahan bacaan, serta penguatan infrastruktur pendukung literasi di Tanah Bumbu.
Kegiatan juga diramaikan dengan pembacaan puisi oleh Amelivea Ramadhani dan penampilan madihin oleh Didi Hamsari, Fitrianti, dan Nayla Tuz Zulfa.













